Kamis, 29 Juli 2010

Briket Batubara solusi bahan bakar untuk memasak selain Gas/LPG

Saat ini hampir setiap hari kita melihat berita di televisi tentang ledakan gas yang mengakibatkan korban jiwa, hal mulai marak terjadi beberapa bulan belakangan ini saja, padahal sebelumnya aman-aman saja.
sebenarnya saya sendiri takut menggunakan gas untuk memasak karena khawatir terjadi ledakan karena memang gas ini mudah terbakar.

beberapa waktu lalu entah tahun berapa, pernah ada wacana untuk mengganti minyak tanah dengan briket batubara tapi sampai sekarang tidak pernah terdengar lagi.
mungkin apabila pemerintah dulu tidak melakukan konversi minyak tanah ke gas ledakan-ledakan itu tidak akan sebanyak sekarang.

mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mensosialisasikan penggunaan briket batubara karena banyak masyarakat yang katanya takut untuk menggunakan gas.

Mungkin ada yang belum tahu apa itu Briket Batubara, berikut ini yang saya ambil dari http://www.tekmira.esdm.go.id . Briket batubara adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran tertentu, yang tersusun dari butiran batubara halus yang telah mengalami proses pemampatan dengan daya tekan tertentu, agar bahan bakar tersebut lebih mudah ditangani dan menghasilkan nilai tambah dalam pemanfaatannya.

Ada 4 dasar pemikiran mengapa briket perlu mendapat perhatian yang serius dalam pengembangan diversifikasi energi di Indonesia yaitu :
• Makin menipisnya cadangan minyak bumi;
• Potensi dan kualitas batubaranya cukup tersedia dan dapat menghasilkan briket yang mempunyai persyaratan;
• Tersedianya teknologi sederhana yang memungkinkan batubara dapat dibentuk menjadi briket;
• Dapat menggantikan penggunaan kayu bakar yang sangat meningkat konsumsinya dan berpotensi merusak ekologi hutan

Terdapat 3 (tiga) bentuk briket batubara :



Briket Super (Terkarbonisasi, bentuk Telor)
Tanjung Enim



Briket Non Karbonisasi (bentuk telor)
Tarahan

Bentuk kubus berlubang





Bentuk kenari (briket bio batubara)





Terdapat dua cara pembuatan briket batubara :
1. Teknologi tanpa karbonisasi
Batubara halus ( -3 mm) dicampur bahan pengikat ( dapat berupa tepung tapioca, serbuk tanah liat, molase atau pengikat lainnya) lalu dicetak pada tekanan pembriket 200 – 400 kg/cm2, selanjutnya dikeringkan.
2. Teknologi dengan karbonisasi
Batubara dipanaskan pada temperatur 700 C selama 3 - 4 jam, didinginkan, digerus sampai -3 mm. Selanjutnya dilakukan pekerjaan seperti no. 1 di atas.
3. Teknologi biobatubara (biocoal)
Batubara halus - 3 mm dikeringkan sampai kadar air 10 %, ditambahkan biomasa (berupa bagas, serbuk gergaji) kemudian dicetak pada tekanan pembriketan 2-3 ton/cm2.

Terdapat 3 (tiga) bentuk briket batubara :
1. Cara penyalaan dari atas (top down)
Cara ini berlaku untuk briket batubara tanpa karbonisasi tipe telur atau tipe silinder atau tipe kubus.

Untuk briket tipe telur tanpa karbonisasi:
o Siapkankan anglo, masukan briket batubara kedalam anglo sesuai kapasitas anglo.
o Tambahkan briket batubara yang telah direndam dalam minyak tanah kurang lebih sebanyak 10 -15 butir di bagian atas.
o Sulut briket yang basah minyak tanah, biarkan menyala dan merambat ke bawah.
o Untuk mempercepat nyala diperlukan pengipasan dari bagian atas

• Cara penyalaan dari bawah (bottom up)
Cara ini berlaku untuk briket batubara terkarbonisasi tipe telur :
• Masukan briket batubara yang telah direndam dalam minyak tanah kurang lebih sebanyak 10 -15 butir di bagian bawah.
• Tambahkan riket batubara kedalam anglo sesuai kapasitas anglo.
• Sulut briket yang basah minyak tanah dari bagian bawah anglo, biarkan menyala dan merambat ke atas.
• Untuk mempercepat nyala diperlukan pengipasan dari bagian bawah.

• Cara penyalaan briket tipe silinder tanpa karbonisasi

• Siapkankan anglo, masukan briket batubara kedalam anglo.
• Tambahkan potongan kayu bakar yang telah yang telah dibasahi minyak tanah.
• Sulut potongan kayu bakar yang basah minyak tanah, biarkan menyala dan merambat ke bawah.
• Untuk mempercepat nyala diperlukan pengipasan dari bagian atas.


Macam-macam spesifikasi tungku


1

Desain Tekmira Diameter = 20 cm
Tinggi = 35 cm
Kapasitas = 1 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 125 menit
500°C = 100 menit Efisiensi = 31%

2

Desain Tekmira Diameter = 25 cm
Tinggi = 30 cm
Kapasitas = 1,5 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 160 menit
500°C = 145 menit Efisiensi = 31%

3


Desain Tekmira Diameter = 30 cm
Tinggi = 35 cm
Kapasitas = 4 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 300 menit
500°C = 270 menit Efisiensi = 33%

4

Desain Jepang Diameter = 22,5 cm
Tinggi = 31 cm
Kapasitas = 1,5 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 120 menit
500°C = 100 menit Efisiensi =
a. 28% dengan penutup emisi
b. 33% tanpa penutup emisi

5


Desain Jepang Diameter = 22 Cm
Tinggi = 55 cm
Kapasitas = 1,5 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 120 menit
500°C = 60 menit
600°C = 5 menit Efisiensi = 33%

6


Desain Korea Diameter = 20 cm
Tinggi = 40 cm
Kapasitas = 2 kg briket
Lama pembakaran :
400°C = 220 menit
500°C = 190 menit Efisiensi = 40%

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

Ads

 
© Copyright 2010. www.dimmy80.co.cc . All rights reserved | www.dimmy80.co.cc is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com